Monday, July 20, 2020

12 Poin Penting Dalam Menulis Versi Fiersa Besari

Sejauh ini ada beberapa kawan bertanya pada saya, "Gimana, sih, cara nulis cerita?" Maka dari itu, kali ini saya ingin mengajak Kawan-kawan berdikusi tentang kiat-kiat cara menulis naskah.

Apa kabar, Kawan-kawan yang mengagumkan? Sebelum masuk ke bagian cara menulis naskah, saya ingin menampilkan buku "Catatan Juang" sebagai contoh. Buku Catatan Juang adalah sebuah cerita sempalan, atau spinoff, dari buku Konspirasi Alam Semesta. Bagi Kawan-kawan yang sudah menonton episode diskusi sebelumnya, tentang Konspirasi Alam Semesta, atau syukur-syukur sudah baca bukunya, ya, mungkin tahu seorang tokoh yang bernama Juang Astrajingga.

Nah, di buku Catatan Juang ini, Juang Astrajingga tidak lagi menjadi tokoh utama, melainkan menjadi sebuah manifestasi pemikiran yang dibaca oleh seorang tokoh perempuan, bernama Kasuarina, atau biasa dipanggil Suar. Nah, secara tidak sengaja, ceritanya si tokoh Suar ini, menemukan buku catatan pemikiran di sebuah angkutan kota. Dan ternyata, buku catatan itu milik seseorang yang bernama Juang. Dan, mereka tidak saling kenal sebelumnya. Dari pemikiran-pemikiran milik Juang, Suar belajar untuk mengejar mimpinya lagi, dan rela meninggalkan pekerjaannya yang sudah membuat dia nyaman.

Nah, karena itulah, Catatan Juang bisa disebut spinoff, atau sempalan. Karena, tokoh-tokoh yang ada di buku Konspirasi Alam Semesta hanya datang sebagai kameo di buku Catatan Juang. Mereka berbagi semesta yang sama, tapi bisa dibaca secara terpisah. Nah, kehidupan Suar ini dihiasi dengan masalah-masalah sosial, seperti penghancuran gunung karst di desanya, yang akan berdampak buruk kepada warga desa. Juga, deforestasi lahan di hutan konservasi di daerah Jawa Barat. Dan, tidak lupa ada juga kisah roman yang takarannya pas antara Suar dengan salah satu tokoh dari buku Konspirasi Alam Semesta.

Siapa? Rahasia, dong, biar beli bukunya. Nah, dari cerita saya barusan, kali ini saya akan membocorkan rahasia saya dalam menulis naskah.

Yang pertama, selalu siapkan notes dan pulpen. Atau, bisa diganti dengan notes yang ada di ponsel. Tentu saja, ini untuk menulis ide-ide liar yang kita dapatkan secara spontan. Karena, ide bisa didapatkan di mana pun, dan dari siapa pun.

Ide bisa berdasarkan dari pengalaman kita sendiri, dan pengalaman orang lain. Dan, kekeliruan yang paling sering kita lakukan adalah kita merasa kita akan selalu ingat dengan ide liar yang kita keluarkan. Padahal, bisa saja lima menit kemudian kita lupa. Makanya, selalu catat.

Dua, ketika Kawan-kawan sudah yakin bahwa idemu akan menjadi sebuah naskah.
Pastikan, alasan si tokoh, konfliknya, dan penyelesaiannya matang. Karena bagi saya, berbagai macam komponen dalam novel itu penting. Tapi yang paling penting adalah, tiga hal tersebut. Tanpa ada alasan yang kuat, tanpa ada konflik yang kuat, dan tanpa ada penyelesaian yang bagus, pembaca tidak akan merasa terikat dengan cerita yang kau ciptakan.

Tiga, jangan lupa riset.
Agar latar belakang tokohmu tidak terasa tempelan, atau sebagai penghias semata. Kalau Kawan-kawan ingin membuat tokoh yang suka kopi, perdalam tentang kopi. Kalau Kawan-kawan ingin membuat tokoh seorang musisi, perdalam juga dunia musik. Jangan ragu untuk background riset ke sebuah tempat, di mana Kawan-kawan akan membuat latar cerita, atau minimal googling, deh. Udah gampang, kok, sekarang.

Empat, matikan ponsel.
Serius, ini penting banget. Ponsel itu mengganggu banget ketika kita nulis naskah. Bayangkan, lagi asyik-asyik nulis tahu-tahu gebetan nanya, "lagi apa?" Aduh, buyar semua ide. Makanya, mematikan ponsel itu penting. Dan kalau perlu, minta izin ke si bebep atau gebetanmu. Dan jelaskan, bahwa dirimu akan menulis naskah sejenak.

Lima, cari ruangan sunyi. Bisa ruangan peredam, atau bisa bisa di hutan. Di ruangan bising pun sebenarnya boleh. Yang tidak ada dialog dari manusia-manusia lain. Karena itu menggangu banget. Tapi, kalau Kawan-kawan tidak bisa menghindari keramaian, mungkin bisa memakai headphone, nyalakan lagu, dan tentu saja lagunya yang tidak berlirik, dan tidak terlampau emosional. Ya, musik-musik instrumental yang menenangkan. Fungsinya agar tidak terdengar suara keramaian, dan bisa mengolah mood kita menjadi lebih tenang dan netral dalam menulis.

Enam, ketika pemikiranmu sudah terus mengalir seperti air, dan ketikanmu tidak bisa berhenti, jangan coba-coba memikirkan apa yang bagus, dan apa yang buruk. Karena itu akan membuat kita berhenti menulis sejenak, dan berpikir bahwa, "Aduh, kayaknya ganti cerita aja, deh." Padahal tidak perlu seperti itu. Mungkin saja, yang kita ketik itu sedang bagian garingnya. Dan itu bisa menjadi jembatan untuk bab berikutnya.

Dan ini menyambung ke poin ke nomor tujuh, berhenti menjadi editor untuk diri sendiri ketika kita masih sibuk menulis. Baru dua halaman, ngedit lagi, baru tiga halaman, balik lagi untuk ngedit, baru empat halaman, "Aduh kayaknya kurang," ngedit lagi, cape! Jadinya, kita melakukan dua hal sekaligus. Padahal tulis saja dulu, untuk masalah typo, atau diksi yang kurang, bisa diperbaiki nanti, kok.

Delapan, kalau .... Delapan, kalau terkena writer’s block, tutup sejenak laptopmu, atau gadget apa pun yang kau pakai menulis, pergi ke luar dari tempatmu menulis, jangan menulis apa pun, dan nikmati suasana. Bisa dengan menikmati kopi, menikmati senja, hujan, melakukan yoga. Ya, pokoknya bikin diri kita relaks. Karena, sering kali kita tidak menyadari, bahwa sebetulnya writer’s block itu adalah reaksi otak kita sudah kecapean disuruh berpikir terus menerus. Dan yang ada ketika kita sedang capek adalah menilai seluruh naskah kita jadi sepenuhnya jelek.

Sembilan, ketika naskahmu sudah beres, baca ulang dari awal, jangan malas. Di sinilah kita bisa memulai proses editing. Cari yang saltik, atau salah ketik, mana aja. Cari juga diksi yang sekiranya kurang enak, dan ingin dipercantik. Dan, cari juga plot yang dirasa menggangu atau masih bisa dipatahkan oleh orang lain. Atau bahasa kerennya, plot hole.

Sepuluh, tutup naskahmu untuk proses pengendapan. Proses pengendapan ini bisa memakan waktu, bagi saya pribadi, ya, itu antara tiga bulan, sampai bertahun-tahun. Tapi ya, tiap orang beda-beda proses pengendapannya. Ada yang cuma seminggu, ada yang sebulan. Intinya, endapkan dulu naskahmu. Jangan dibuka-buka lagi, sampai di periode waktu tertentu, buka kembali. Dan percaya deh, Kawan-kawan akan menemukan banyak hal yang unik, janggal, atau lebih menarik ketika ditiadakan. Karena, ketika kita membaca ulang, setelah proses pengendapan, kita akan membaca dengan pemikiran yang lebih fresh.

Sebelas, jangan ragu atau malu untuk membacakan naskahmu kepada orang lain. Setidaknya, pada kawan-kawan sendiri, atau kalau Kawan-kawan masih malu, bacakan pada diri sendiri, dengan suara yang keras. Karena membaca naskah sendiri dengan suara yang keras dan berintonasi, akan membuat kita sadar mana dialog dan monolog yang masih terasa aneh, mana adegan yang masih terasa rancu, dan lain sebagainya.

Dua belas, akhirnya meskipun merasa masih banyak ketidaksempurnaan dalam naskah yang kita buat, jangan ragu untuk mengirim naskah pada penerbit, atau jika tidak mau mengirim pada penerbit, jangan malu untuk share naskah kita di blog, atau di Wattpad. Tuh, lagi kekinian kan ya, Wattpad. Atau media menulis apa pun.

Kalau banyak yang suka jangan berhenti belajar karena pujian. Dan kalau banyak yang tidak suka, jangan berhenti belajar karena makian. Terus menulis, dan menulis lagi.

Jika Kawan-kawan merasa konten ini bermanfaat, jangan lupa bookmark, dan baca artikel lain yang tidak kalah bermanfaat. Terima kasih banyak
Disqus Comments